Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia Secara Singkat

0
868
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia ringkas
pixabay

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia – Bangsa yang hebat adalah bangsa yang tak pernah melupakan sejarah. Sejarah merupakan peristiwa masa lampau yang tersusun menjadi sebuah cerita sehingga dapat dijadikan sebagai guru kehidupan. Mengingat sejarah adalah bentuk penghargaan kita kepada bangsa yang memiliki peran penting dalam menciptakan suatu peradaban. Sebagai Bangsa Indonesia dengan bahasa nasional bahasa Indonesia, kita perlu mengetahui sejarah perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri sebagai bentuk penghargaan kita terhadap jasa-jasa pahlawan yang memperjuangkan bangsa ini serta sebagai bentuk penghargaan terhadap bahasa Indonesia itu sendiri. Secara garis besar, sejarah perkembangan bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sejarah perkembangan bahasa Indonesia sebelum Indonesia merdeka dan setelah Indonesia merdeka.

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia ringkas
pixabay

Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 bertepatan dengan berikrarnya para pemuda dari berbagai penjuru nusantara yang kemudian dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. Inti dari isi sumpah pemuda sendiri yaitu (1) bertumpah darah satu, tanah Indonesia (2) berbangsa satu, bangsa Indonesia dan (3) menjujung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Unsur ketiga dari sumpah pemuda tersebut merupakan tekad untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa. Pada tahun 1928 tersebutlah bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa nasional untuk menyatukan bangsa yang memiliki beragam bahasa.

Berikut kami akan memaparkan artikel sejarah bahasa indonesia yang akan memaparkan bagaimana sejarah singkat lahirnya bahasa indonesia yang akan di ulas dalam dua pembahasan pokok seperti yang telah kami jelaskan sebelumnnya, semoga anda tertarik untuk membacanya dan mengambil banyak manfaat darinya.

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia Sebelum Kemerdekaan

Sejarah mencatat bahwa sebelum Indonesia merdeka ada banyak sekali kerajaan yang berkuasa di nusantara. Bahasa yang digunakan untuk melakukan komunikasi antar kerajaan pada masa itu adalah bahasa melayu. Penyebaran bahasa melayu ke berbagai pelosok nusantara bersamaan dengan perkembangan agama islam di wilayah nusantara. Pada masa itu, bahasa melayu digunakan untuk bahasa perdagangan, bahasa antar suku, antar agama, antar pulau, maupun antar kerajaan. Hal tersebutlah yang menjadi cikal bakal lahirnya bahasa Indonesia. Berdasarkan penelusuran sejarah dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu.

Pertumbuhan dan perkembangan bahasa melayu tampak jelas dengan adanya peninggalan-peninggalan sejarah seperti prasasti-prasasti. Prasasti-prasasti tersebut diduga pertama kali ditemukan di daerah selatan Pulau Sumatera dan sebagian daerah di Jawa Tengah. Selanjutnya, ditemukan bukti-bukti tertulis lainnya di daerah yang berbeda. Bahasa yang digunakan pada prasasti-prasasti tersebut adalah bahasa melayu kuno. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa melayu telah banyak digunakan oleh masyarakat di nusantara pada masa itu.

Sejarah penggunaan bahasa melayu tersebut cukup panjang sehingga mengakibatkan versi bahasa yang digunakan menjadi bervariasi. Selain itu, penggunaan bahasa melayu yang cukup luas tersebut melahirkan dialek yang berbeda-beda. Kajian linguistik yang telah dilakukan terhadap sejumlah teks menunjukkan bahwa terdapat paling sedikit dua dialek bahasa melayu kuno yang digunakan pada masa yang berdekatan. Akan tetapi, sangat disayangkan sekali bahasa melayu kuno tersebut tidak menginggalkan catatan dalam bentuk kesusasteraan.

Pada tahun 1901, Ch. A. van Ophujisen mulai menyusun ejaan resmi bahasa melayu dengan dibantu oleh Nawawi Soutean Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ejaan resmi tersebut dimuat dalam kitab Logat Melayu. Ejaan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Adanya huruj j yang di baca y, misalnya jang, sajang, pajah,dan sebagainya.
  2. Adanya huruf oe yang dibaca u, misalnya soekoe, itoe, oemar, dan sebagainya.
  3. Tanda diakritik seperti koma ain, misalnya ma’moer, ‘akal, ta’, dan sebagainya.

Selanjutnya, Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur atau Taman Baca Rakyat pada tahun 1908 yang kemudian pada tahun 1917 namanya diubah menjadi Balai Pustaka. Buku-buku yang diterbitkan oleh Balai Pustaka ini meliputi novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, dan sebagainya. Adanya penyebaran buku-buku ini sangat membantu menyebarkan bahasa melayu di kalangan masyarakat luas. Kemudian pada tanggal 16 Juni 1927, Jahja Datoek Kayo menggunakan bahasa melayu untuk pertama kalinya dalam pidatonya di sidang Volksraad (dewan rakyat) dan pada tahun 1928, secara resmi dilakukan pengokohan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. Kongres Bahasa Indonesia pertama kali kemudian digelar di Solo pada tahun 1938.

Adapun faktor yang menyebabkan bahasa melayu dipilih sebagai salah satu sumber atau ragam bahasa Indonesia antara lain:

  1. Bahasa melayu memiliki sistem bahasa yang cukup mudah dipelajari dan sederhana.
  2. Pada masa itu, bahasa melayu sudah digunakan sebagai bahasa perantara di seluruh Asia Tenggara dalam berbagai perkumpulan dan kegiatan kenegaraan.
  3. Berbagai suku di negara Indonesia menerima bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia yang nantinya dijadikan sebagai bahasa persatuan dan bahasa nasional.
  4. Bahasa melayu memiliki kesesuaian untuk diterapkan sebagai bahasa kebudayaan dalam arti luas.

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia Setelah Kemerdekaan

Bahasa Indonesia dinyatakan sah kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945, satu hari setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Pada tanggal tersebut, bertepatan dengan pengesahan konstitusi negara, yaitu Undang-undang Dasar 1945 dimana penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara tertuang pada pasal 36. Hingga kini bahasa Indonesia terus digunakan dan mengalami perluasan kosakata yang berasal dari serapan-serapan bahasa daerah.
Dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya tanggal 19 Maret 1947, ejaan resmi bahasa melayu yang disusun oleh Ch. A. van Ophujisen digantikan dengan ejaan Soewandi. Ejaan tersebut selanjutnya disebut dengan ejaan republik oleh masyarakat Indonesia karena masih berdekatan dengan proklamasi kemerdekaan.

Ciri-ciri dari ejaan Soewandi

1. Huruf oe diganti dengan huruf u
2. Bunyi sentak yang awalnya ditandai dengan koma ain, diganti dengan huruf k, misalnya makmur, tak, dan sebagainya
3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, misalnya tiba2, anak2, jalan2, dan lain-lain
4. Awalan di- dan kata depan ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya, misalnya didapur, ditulis, dimeja, dan lain sebagianya.

Setelah itu, bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan hingga diresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Sebelum dilakukan peresmian EYD, pernah ada juga ejaan Melindo yang merupakan kependekan dari Melayu-Indonesia. Akan tetapi, ejaan Melindo ini akhirnya batal diresmikan karena faktor perkembangan politik. EYD diresmikan pemakaiannya pertama kali pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Suharto. Pada masa itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan untuk digunakan sebagai patokan pemakaian ejaan. Meskipun telah mengalami berbagai revisi selama perjalanannya, ejaan ini tetap digunakan dan dipertahankan hingga sekarang.

Kesimpulan dan Penutup

Hingga saat ini, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang hidup,yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing sehingga lahirlah berbagai ragam bahasa. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita harus tetap melestarikan bahasa persatuan ini di era globalisasi.

Itulah sejarah perkembangan bahasa indonesia yang hingga pada saat ini, bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebangsaan nasional, lambang identitas nasional, alat pemersatu berbagai suku bangsa yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, serta alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai bahasa resmi, bahasa pengantar di dunia pendidikan, alat perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional dan kepentingan pemerintahan, serta alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Artikel Terkait

[display-posts category=”sejarah” posts_per_page=”10″]