2 min read

SOP iblis

Hari ini saya membaca sebuah artikel yg menarik, membahas ayat dalam Al-Quran mengenai cara iblis menggoda manusia, dikatakan bahwa iblis menghadang manusia dari depan, belakang, kanan, dan kiri.

Arah depan ditafsirkan sebagai angan-angan akan masa depan yg menyenangkan, jika saya memiliki ini maka saya akan bahagia.

Contoh kecilnya, mungkin di saat kita belum memiliki sesuatu yg kita inginkan, bayangan akan sesuatu itu sangat indah, namun tatkala kita telah memilikinya, kita merasa senang sebentar, dan tak lama kemudian kita bosan dan merasa itu biasa-biasa saja. Dan anehnya, tak lama kemudian kita mendapatkan angan-angan baru lagi, dan siklus yg sama terus berulang.

Angan-angan inilah yg menjadi salah satu senjata iblis untuk menyibukkan kita dengan dunia hingga lupa yg namanya kematian.

Terus, solusinya bagaimana?, diantaranya adalah merenungkan kembali angan-angan kita, apakah kebahagiaan yg kita cari ada pada hal itu, atau jangan-jangan itu hanya kebenaran semu yg terlihat benar karena dipercaya oleh kebanyakan orang.

Solusi yg kedua, yakinlah bahwa angan-angan yg fokusnya pada diri kita sendiri (demi diri sendiri) akan selalu berakhir dengan rasa bosan. Sebaliknya, jika motivasinya adalah untuk kebaikan bersama atau membantu orang yg membutuhkan, kebahagiaan yg sama bahkan lebih akan kita dapatkan di dunia beserta balasannya nanti di akhirat.

Arah belakang ditafsirkan sebagai penyesalan, iblis membisiki mengenai kesalahan yg kita lakukan di masa lalu, agar timbul penyesalan pada diri kita, penyesalan ini akan melemahkan jiwa dan membuat kita putus asa, ujung-ujungnya menyalahkan takdir.

Solsuinya, adalah dengan mengambil pelajaran atas kesalahan masa lalu, dan bertekad untuk bangkit kembali, berprasangka baik kepada Allah, dan yakin saja bahwa kesalahan itu tujuannya untuk mendidik kita agar lebih berhati-hati dalam melangkah, atau bisa saja tanpa kesalahan itu, kita akan terjatuh pada masalah yg jauh lebih besar, seperti istidraj (nikmat digunakan untuk maksiat).

Dari kanan ditafsirkan sebagai menunda-nunda (malas) melakukan kebaikan.

Dari kiri ditafsirkan melihat sesuatu yg salah terlihat baik.

Yg kanan dan kiri pendek aja ya, renungi sendiri solusinya.

Terus arah atas dan bawah tdk dihalangi ditafsirkan sebagai tauhid yg benar dan rahmat dari atas, serta sujud dan tawadhu (rendah hati) dari bawah. Kedua ini ga bisa dihalangi dan ditembus oleh iblis.

Tapi intinya, tujuan iblis adalah membuat kita untuk tidak bersyukur. Maka, belajarlah bersyukur dengan melihat kembali nikmat-nikmatNya yg seringkali tidak kita sadari, seperti udara yg bersih, nafas yg lega, dll.. yg kita anggap biasa-biasa saja, namun baru kita sadar betapa berharganya setelah kehilangan itu semua.

Maka, jangan sampai nikmat itu baru kita rasakan setelah kita diuji dengan dicabutnya nikmat tersebut, juga jauhilah perasaan iri, dengki, atau membandingkan diri dengan orang lain yg kita kira diberikan nikmat lebih banyak.

Nikmat sejati di dunia ini adalah ketenangan, dan itu tidak akan kita peroleh kecuali dengan selalu intropeksi diri dan menunaikan kewajiban ibadah, serta memperbanyak shalawat kepada baginda Rasulullah saw.