Ketenangan

Dalam membedah bagaimana jiwa mencapai titik stabil (al-nafs al-muthma’innah) sehingga memiliki base ketenangan dengan amplitudo emosi yang sempit, Imam Al-Ghazali (melalui Ihya’ Ulumuddin, Ma’arij al-Quds, dan Mizan al-‘Amal) serta Fakhruddin Ar-Razi (melalui Kitab al-Nafs wa al-Ruh wa Syarh Quwahuma dan Mafatih al-Ghaib) memberikan penjelasan yang sangat mekanistik, logis, dan berbasis pada anatomi daya-daya jiwa (quwa al-nafs).
Keduanya sepakat bahwa fluktuasi ekstrem (kurva yang curam antara euforia dan depresi) bukanlah takdir biologis yang tidak bisa diubah, melainkan kegagalan tata kelola internal di dalam diri manusia.
Berikut adalah mekanisme bagaimana jiwa mencapai titik ekuilibrium (muthma'innah) menurut kedua tokoh tersebut:
1. Imam Al-Ghazali: Mekanisme Al-‘Adalah (Titik Ekuilibrium) dan Pemutusan ‘Ala’iq
Bagi Al-Ghazali, jiwa manusia (al-nafs) memiliki satu pusat kendali yaitu Akal/Qalbu (al-Quwwah al-‘Aqilah), dan dua daya penggerak di bawahnya yang selalu menarik jiwa ke arah ekstrem:
- Daya Syahwat (al-Quwwah al-Syahwaniyyah): Daya tarik untuk mengejar kenikmatan/keuntungan. Ini yang membuat kurva melonjak tajam ke atas (euforia/rakus) saat mendapat dunia, dan memicu angan-angan panjang (Thulul Amal).
- Daya Ghadhab (al-Quwwah al-Ghadhabiyyah): Daya tolak untuk menghindari rasa sakit/kehilangan. Ini yang membuat kurva terjun bebas ke bawah (marah, cemas, sedih berlebihan) saat kehilangan dunia.
Mengapa kurva kebanyakan orang sangat curam?Menurut Al-Ghazali, itu terjadi karena Akal diperbudak oleh Syahwat dan Ghadhab.
Akal hanya dipakai sebagai "alat kalkulasi" untuk melayani keinginan syahwat dan ketakutan ghadhab. Akibatnya, jiwa tidak punya jangkar (base); posisinya sepenuhnya bergantung pada ada atau tidak adanya objek eksternal.
Mekanisme Mencapai Base Ketenangan (Muthma’innah):
- Menundukkan Dua Daya di Bawah Akal (I’tidal / Ekuilibrium): Jiwa baru disebut muthma’innah (tenang/stabil) ketika Akal mengambil alih komando penuh, lalu menekan Syahwat dan Ghadhab ke titik tengah (al-wasath). Syahwat tidak dibunuh (karena kita tetap butuh makan dan hidup), tapi dipangkas hingga sebatas kebutuhan esensial (hidup sederhana). Ghadhab tidak dimatikan, tapi diubah menjadi keteguhan mental (syaja’ah dan hilm).
- Memutus Tali Keterikatan (Qath’ al-‘Ala’iq): Al-Ghazali membuat rumusan mekanis yang sangat tajam: Kesedihan adalah fungsi lurus dari keterikatan. Semakin banyak tali (‘ala’iq) yang mengikat hati seseorang pada objek-objek duniawi (harta berlebih, status, ekspektasi pada manusia), semakin banyak titik di mana ia bisa ditarik dan diguncang. Ketika seseorang memilih hidup sederhana dan selesai dengan dirinya, ia memotong tali-tali tersebut. Ketika objek duniawi itu hilang atau datang, tidak ada lagi tali yang menarik jiwanya secara ekstrem.
- Definisi Zuhud yang Sebenarnya: Dalam Ihya', Al-Ghazali mengutip definisi zuhud terbaik yang merangkum kurva Anda (merujuk pada ayat QS. Al-Hadid: 23): "Zuhud bukanlah ketiadaan harta di tanganmu, melainkan keadaan di mana engkau tidak berduka cita atas apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira (euforia) atas apa yang datang kepadamu." Ini adalah definisi tekstual paling presisi dari kurva beramplitudo rendah.
2. Fakhruddin Ar-Razi: Kalkulasi Hakikat Objek dan Superioritas Substansi Jiwa
Jika Al-Ghazali mendekatinya dari sisi regulasi daya psikologis dan penyucian hati (riyadhah), Fakhruddin Ar-Razi membedahnya dengan pisau rasional-analitis dan metafisika yang sangat dingin dan objektif.
Dalam Kitab al-Nafs wa al-Ruh, Ar-Razi membuktikan secara logis mengapa kebahagiaan duniawi (fisik/materi) mustahil dijadikan base ketenangan:
1. Pembongkaran Ilusi Kenikmatan Duniawi (Hukum Daf’ al-Alam)
Ar-Razi melakukan analisis empiris terhadap apa yang disebut manusia sebagai "kesenangan dunia". Menurut Ar-Razi, hampir semua kenikmatan fisik dan duniawi itu bukanlah nilai positif yang berdiri sendiri, melainkan sekadar hilangnya rasa sakit/kekurangan (daf’ al-alam).
- Makan terasa nikmat hanya karena ada rasa sakit bernama lapar. Jika Anda sudah kenyang lalu dipaksa makan makanan terenak di dunia, rasanya berubah menjadi siksaan.
- Punya banyak harta atau kekuasaan terasa menyenangkan hanya karena sebelumnya ada ketakutan akan kemiskinan atau penghinaan.
Implikasi pada Kurva: Karena kenikmatan duniawi pada hakikatnya hanyalah "pengobatan atas rasa sakit", maka orang yang mengejar kebahagiaan duniawi sebenarnya sedang menjebak dirinya dalam siklus menciptakan rasa sakit (keinginan/angan-angan) -> mengobatinya (euforia sesaat) -> bosan/sakit lagi (sedih/gelisah).
Kurvanya pasti curam dan fluktuatif karena sifat objek yang dikejarnya memang bergantung pada defisit.
2. Ketidakcocokan Sifat: Jiwa yang Konstan vs. Dunia yang Fluktuatif (Taghayyur)
Dalam Mafatih al-Ghaib (saat menafsirkan QS. Al-Fajr: 27-28 tentang al-nafs al-muthma’innah), Ar-Razi menjelaskan bahwa kata ithmi’nan berarti menetapnya sesuatu pada tempatnya yang kokoh setelah sebelumnya terguncang.
Mengapa jiwa bisa terguncang? Ar-Razi membangun silogisme:
- Dunia fisik bersifat mutaghayyir (selalu berubah, fana, rusak, datang dan pergi).
- Jika jiwa (yang merupakan substansi non-materi yang luhur) mengikatkan kebahagiaannya pada objek yang sifat alaminya selalu berubah (mutaghayyir), maka hukum pastinya: jiwa itu akan ikut terombang-ambing sesuai fluktuasi objek tersebut.
- Satu-satunya cara agar jiwa mencapai titik muthma’innah (stabil/tenang) adalah dengan melepaskan ketergantungan dari hal-hal yang berubah-ubah (melalui penyederhanaan kebutuhan fisik) dan menambatkan akalnya pada kebenaran yang konstan/tetap (al-Haqq dan kemandirian intelektual/spiritual).
3. Kemandirian Jiwa (Istighna’ al-Nafs) dan Prinsip Overflow
Ar-Razi membagi orientasi jiwa menjadi dua: jiwa yang melihat ke bawah (mengurus tubuh dan syahwat materi) dan jiwa yang melihat ke atas (mengurus kebijaksanaan dan ketenangan akal).
- Selama jiwa sibuk melihat ke bawah (belum selesai dengan urusan dirinya dan masih rakus pada dunia), jiwa itu berstatus fakir (butuh/defisit). Ia selalu menarik sesuatu dari luar untuk mengisi kekosongannya.
- Ketika seseorang memilih hidup sederhana dan mencukupkan kebutuhan fisiknya pada batas minimal yang fungsional, jiwa tidak lagi disibukkan oleh urusan bawah. Ia menjadi mandiri dan selesai dengan dirinya.
- Saat jiwa sudah mandiri dan tenang di dalam dirinya sendiri, Ar-Razi menjelaskan bahwa jiwa tersebut naik ke derajat kemuliaan di mana sifatnya berubah dari menerima/menuntut menjadi memancarkan (faydh). Inilah landasan filosofis dari apa yang Anda sebut tadi sebagai "bermanfaat bagi orang lain sebagai ekses/implikasi". Bagi Ar-Razi, kebaikan yang keluar dari jiwa yang sudah muthma’innah bukanlah transaksi untuk mencari imbalan, melainkan pancaran alami dari substansi jiwa yang sudah penuh dan stabil.
Perbandingan Mekanisme Keduanya dalam Model Kurva Anda
Kedua guru Anda ini pada akhirnya bermuara pada kesimpulan yang persis sama dengan yang Anda rumuskan: Ketenangan (ithmi'nan) bukanlah ketiadaan ombak di luar diri, melainkan adanya jangkar (base) di dalam diri.
Ketika jangkar (base) itu dibuat (wujudnya adalah ketenangan), dengan cara memutus angan-angan panjang dan memperingan beban hidup dengan memilih kesederhanaan, guncangan di permukaan hanya akan menjadi riak kecil yang tidak mampu menggeser posisi dasar (jangkar/base) jiwa tersebut.