2 min read

Duluan mana, Ayam atau Telur?

Agar pembaca memahami inti bahasan ini, letakkan pondasi logikanya pada pembedaan antara kebiasaan (hukum adat) dan kemutlakan rasio (hukum akal):

  • Hukum Adat/Kebiasaan (Empiris): Sesuatu dianggap "masuk akal" atau "mungkin" semata-mata karena mata kita sudah terbiasa melihatnya berulang kali (seperti ayam bertelur atau biji tumbuh). Sebaliknya, hal yang belum pernah kita lihat langsung dicap "mustahil", padahal cap itu keliru, mengapa?.
  • Karena manusia hanyalah penonton, bukan pencipta. Kita tidak punya andil sedikit pun dalam mengubah telur menjadi ayam. Menilai sesuatu "mungkin" hanya karena terbiasa, atau "tidak mungkin" karena di luar kebiasaan, adalah kesalahan berpikir.
  • Bagi kekuasaan Allah yang mutlak, menciptakan ayam dari telur sama persis tingkat kesulitannya dengan mengeluarkan unta dari sebongkah batu: keduanya sama-sama mungkin, dan sama-sama murni keajaiban.
  • Dalam hukum akal, perbedaan antara mungkin dan mustahil itu jelas. Dikatakan mustahil ketika bertentangan dengan akal seperti lingkaran bersudut empat, itu mustahil/tdk masuk akal karena lingkaran pada hakikatnya tdk memiliki sudut. Atau pertanyaan, siapa yg menciptakan Tuhan?, pertanyaan ini mustahil/tdk masuk akal, karena Tuhan disebut sebagai Tuhan karena ia tidak diciptkan, kalau ia diciptakan, maka bukan Tuhan lagi namanya sehingga pertanyaannya keliru/tdk masuk akal.
  • Sesuatu dikatakan mungkin ketika ia dimungkinkan oleh akal dan tdk bertentangan dengan akal, misalnya: manusia yg bisa melayang di udara, unta yg ke luar dari batu, laut yang terbelah, bulan yg terbelah. Semua itu sifatnya mungkin dan akal kita tidak menolaknya. Ketika ada yg menolaknya, semata-mata karena itu tdk biasa ia saksikan, bukan karena tdk mungkin. Jadi, pikirkan baik-baik, selama ini kita jadi korban kebiasaan atau sebab akibat, padahal sebab akibat itu tdk niscaya (tdk harus), ada yg mengkhususkannya, yaitu Allah Swt.

Banyak orang suka memperdebatkan paradoks klasik: duluan mana antara telur dan ayam? Namun, jika dibedah lewat kacamata tauhid, perdebatan itu luput dari inti yang paling mendasar.

Ketika kita melihat telur menetas menjadi ayam, lalu ayam bertelur kembali, kita dengan santai berkata, "Itu wajar dan sangat mungkin."

Pertanyaannya: apa kontribusi kita terhadap proses tersebut? kita tidak ikut menciptakan telur, tidak ikut meniupkan nyawa pada ayam, dan sama sekali tidak mampu membuat keduanya dari nol.

Posisi manusia hanyalah penonton/saksi yang kebetulan melihat siklus itu berulang-ulang. Lantas, atas hak apa seorang penonton/saksi yang sama sekali tidak berkontribusi menghukumi mana yang "mungkin" dan mana yang "mustahil"?

Siklus alam seperti telur jadi ayam, biji jadi pohon, pohon berbuah biji bisa berjalan sampai kiamat semata-mata karena terus disokong oleh qudrah (kekuasaan) Allah, bukan karena materi-materi itu punya daya sendiri.

Kesalahan berpikir manusia baru ia sadari ketika dihadapkan pada mukjizat:

  • Saat membaca kisah Nabi Saleh mengeluarkan unta hidup dari sebongkah batu, akal manusia protes: "Bagaimana logikanya hewan bisa keluar dari batu? Itu mustahil!"
  • Namun, jika ditanya balik: "Lalu bagaimana logikanya benda cair di dalam cangkang telur bisa berubah menjadi makhluk berbulu, bernapas, dan memiliki organ lengkap?"
  • Manusia menjawab enteng: "Ah, kalau itu biasa."

Padahal ukurannya sama: kita tidak mampu bikin telur, dan kita juga tidak mampu membelah batu mengeluarkan unta.

Bagi orang yang bertauhid matang, nisbat keluarnya ayam dari telur dan keluarnya unta dari batu itu sama persis. Dua-duanya berada di luar kemampuan manusia dan murni berdiri di atas kuasa Allah.

Yang membuat kita menganggap ayam itu "wajar" dan unta batu itu "mustahil" hanyalah frekuensi penglihatan: yang satu sering kita tonton, yang satu belum pernah kita saksikan.

Inilah sebabnya seorang yang arif selalu bertasbih kagum setiap kali melihat siklus alam sehari-hari. Mereka sadar bahwa yang biasa kita sebut "hukum alam/kebiasaan/empiris" sebenarnya adalah keajaiban tak henti-hentinya yang digerakkan oleh Allah Ta'ala, dan Allah sama sekali tidak terikat oleh kebiasaan ciptaan-Nya.