Menata Ulang Cara Kita Memahami Cinta
Banyak orang mengira mereka sedang mencintai, padahal yang sebenarnya mereka lakukan hanyalah berdagang rasa.
Tanpa sadar, setiap perhatian, waktu, dan pengorbanan dicatat rapi dalam buku kas batin, menunggu untuk ditagih.
Begitu balasannya tidak sesuai harapan, cinta itu segera berganti menjadi kecewa, rasa tertipu, atau bahkan amarah.
Jika demikian polanya, itu bukan cinta. Itu pamrih yang memakai topeng kasih sayang.
Lalu, apa sebenarnya hakikat cinta? Mengapa kata-kata mulia seperti cinta, kebijaksanaan, dan kesucian selalu menuntut hadirnya keadilan?
Berikut adalah rangkuman perjalanan memahami kembali hakikat cinta, mulai dari relasi sesama manusia hingga titik baliknya di hadapan Sang Pencipta.
Keadilan dan Kebijaksanaan: Jiwa dari Segala Kebaikan
Kita sering mendengar kata-kata luhur: keberanian, kebijaksanaan, kesucian, dan cinta. Namun, semua nilai itu bisa rusak jika kehilangan satu hal: keadilan.
Keadilan bukan sekadar urusan hukum atau pengadilan. Dalam maknanya yang paling mendasar, adil adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempat dan ukurannya.
- Keberanian tanpa keadilan berubah menjadi kenekatan yang mencelakakan, sehingga keberanian merupakan sikap pertengahan diantara pengecut atau nekat.
- Kesucian tanpa keadilan bisa menjelma menjadi kekakuan yang menyiksa diri.
- Cinta tanpa keadilan akan tergelincir menjadi obsesi yang mengekang dan menuntut.
Di sinilah keadilan bertemu dan menyatu dengan kebijaksanaan praktis yaitu kepekaan budi untuk membaca kenyataan hidup sehari-hari.
Keduanya bagaikan dua sisi dari satu mata uang: kebijaksanaan adalah mata yang melihat kebenaran situasi, sedangkan keadilan adalah langkah kaki yang menunaikannya.
Ketika seseorang bijak dan adil, cintanya kepada sesama tidak akan pernah berubah menjadi jeratan pamrih.
Hakikat Cinta: Menghendaki Mekarnya Kebaikan
Jika cinta sejati bebas dari pamrih dagang, lantas apa wujudnya?
Cinta yang sejati adalah kehendak tulus agar potensi kebaikan pada diri orang yang kita cintai dapat terwujud dan mekar sempurna.
Cinta bukan tentang apa yang bisa kita ambil dari orang lain, melainkan ruang apa yang bisa kita sediakan agar ia tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya.
- Kita tidak memaksanya menjadi boneka pemuas ego kita.
- Kita tidak memotong sayapnya hanya karena takut ia terbang menjauh.
- Kita berani menegurnya jika ia keliru, dan rela menahan diri demi kebaikannya.
Dalam cinta yang seperti ini, tidak ada hitung-hitungan untung-rugi. Fokusnya adalah mengantarai jiwa yang dicintai menuju kesempurnaan fitrahnya.
Titik Balik: Bisakah Kita Mencintai yang Mahasempurna?
Jika cinta diartikan sebagai upaya membantu orang lain mewujudkan potensi kebaikannya, timbul pertanyaan mendasar:
Bagaimana cara kita mencintai Tuhan? Bukankah Tuhan sudah Mahasempurna dan tidak butuh bantuan apa pun dari kita?
Di sinilah seluruh cara pandang kita berputar 180 derajat.
Kepada sesama makhluk yang serba kurang, cinta kita berwujud bantuan dan bimbingan agar mereka mekar.
Namun di hadapan Tuhan yang Mahakaya dan Mahasempurna, cinta kita tidak lagi bisa berupa "memberi". Yang tersisa bagi manusia hanyalah satu hal: penghambaan dan penyerahan diri secara total.
Penghambaan kepada Tuhan bukan berarti perbudakan yang merendahkan. Justru sebaliknya, berserah kepada Tuhan memerdekakan kita dari perbudakan terhadap ego diri sendiri, gengsi, dan ketakutan pada sesama manusia.
Cinta kita kepada Tuhan adalah pengakuan jujur bahwa diri kita fakir, dan Dia-lah sumber segala kebaikan.
Rahasia Terbesar: Tuhanlah Sang Pencinta Sejati
Pada akhirnya, sebuah rahasia batin tersingkap: dalam hubungan antara manusia dan Sang Pencipta, bukan manusia yang berperan sebagai pencinta utama, melainkan Tuhan.
Sebagaimana digambarkan dalam hadis suci, ketika seorang hamba mendekat dan berserah penuh kepada-Nya, Tuhan berfirman bahwa Dia-lah yang akan menjadi pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki sang hamba.
Artinya, definisi awal kita tentang cinta justru berpulang kepada-Nya:
- Tuhanlah yang sebenarnya menghendaki agar potensi kebaikan dan kesucian di dalam diri kita mekar sempurna.
- Tugas kita sebagai manusia bukanlah merasa hebat sedang "mencintai Tuhan", melainkan mengosongkan bejana hati dari keakuan, lalu membiarkan bimbingan dan cinta-Nya mengalir membenahi hidup kita.
Cinta kepada sesama manusia melatih kita untuk berhenti menuntut. Namun cinta kepada Tuhan menyadarkan kita bahwa seluruh hidup ini adalah tentang kepasrahan: melepaskan kendali ego, menjadi hamba yang tulus, dan membiarkan Sang Maha Mencintai menuntun setiap langkah kita.