Takdir dan Ridha

Ketakutan dan kecemasan seringkali berakar dari ketidaktahuan.

Bismillah.

Bagi yg masih bingung takdir itu seperti apa, saya ingin mengajak anda berlogika, semoga saya ga ditafsir kaku karena memang senang dengan logika, logika tdk akan pernah cukup tanpa rasa, logika hanya mengantarmu sampai ke depan pintu, rasa itu yg mengantarmu ke dalam cinta.

Takdir termasuk dalam perkara gaib yg kita tidak punya akses ke sana, ibarat sebuah blueprint (cetak biru) alam semesta dari awal hingga akhir.

Karena ini perkara gaib, kita tidak punya akses ke sana, akibatnya kita tidak tahu apa takdir kita.

Karena ketidaktahuan itulah, maka satu-satunya kunci adalah berusaha dengan maksimal (do ur best!), bukan malah pasrah, maaf, pasrah itu salah besar, karena pasrah itu tanda ketidaksyukuran atas nikmat hidup yg Dia titipkan.

Apa tujuan takdir?, jujur ku tak bisa menjelaskannya sebaik apa yg dikatakan oleh-Nya:

"(Yang demikian itu kami tetapkan/takdirkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu."

Indah sekali bukan?, tolong baca ayat itu sebagai surat cinta, jangan membacanya sebagai surat seorang hakim yg ingin menghukumi.

Kegagalan, kekecewaan, kegelisahan, seakan-akan dengannya berbisik, tdk usah terlalu sedih, semua itu sudah ditakdirkan untukmu, jangan putus-asa sebesar apapun dan sesering apapun engkau melakukan dosa, dan lalai dariku, pintu ampunan dan rahmatku selalu terbuka.

Dan di saat kita bergembira, bersenang-senang, berbahagia, Dia juga ikut berbisik, jangan terlalu gembira, biasa-biasa saja, tetap rendah hati. Apa itu artinya Dia melarang kita menikmati kebahagiaan?, tidak sama sekali karena Dialah yg memberikannya, sekaligus mengatakan jangan berlebih-lebihan, takutnya nanti kalau sedih, jadinya sedih banget karena standarmu terlalu tinggi.

Kesedihan dan kegembiraan, keduanya akan berlalu, tujuannya agar kita mengingat sang pemberi, dan pada akhirnya, bahwa semua itu pasti akan berlalu, termasuk alam semesta ini, dan yang kekal hanyalah Dia. Yap, Dia ingin agar kita selalu kembali hanya kepada-Nya.

Takut akan takdir buruk?, ini juga ketakutan saya, namun saya berpikir, bahwa selama ini toh saya juga sudah menjalani takdir-takdir darinya, mengapa takut, toh selama ini baik-baik saja, sedih dan bahagia juga silih berganti, ke depannya juga akan tetap sama.

Aku berbisik ke dalam jiwaku "Tuhanku lebih tahu diriku, bahkan aku sendiri tak pernah presisi (detail) bisa menjawab perasaan yg kurasakan, bahkan terhadap diriku sendiri ku tak mengenalnya, Dialah satu-satunya yg mengenal diriku, apa yg aku kira baik, belum tentu baik untukku, dan apa yg kukira buruk belum tentu buruk untukku, mengapa ku tak menyerahkannya kepada Dia yang maha tahu, maha penyayang, maha adil, maha lembut, dll.. mengapa? Maafkan aku ya Rab, mungkin selama ini aku terlalu sombong."

Akhirnya dengan mengetahui pondasi pemahaman seperti itu, aku bisa belajar lebih ridha atau bahkan apakah ada pilihan yg lebih baik, benar, dan indah selain ridha?, karena ku yakin, Dialah yg paling tahu, dan di setiap takdirnya selalu ada hikmah dibaliknya.

Wassalam.