3 min read

Aku Tak Pernah Ikhlas

Bismillah.

Ikhlas, apa itu?

Kalau bicara soal ikhlas, di Quran, itu ada 2 kata, mukhlisin dan mukhlasin, apa itu?

Mukhlisin = orang-orang yg berusaha mengikhlaskan (amalnya).

Mukhlasin = orang-orang yg diikhlaskan (amalnya).

Jadi, ikhlas yg murni ikhlas itu ternyata ga ada. Kenapa?. Mudah saja, selama ada "aku" kita ga pernah ikhlas.

Aku itu siapa?

Coba lihat baju anda, apakah itu anda?. Oh, bukan, karena baju ini dari luar saya, saya hanya mengakuisisi (memperoleh).

Oke, sekarang badan anda, apakah itu anda?. Oh, tentu, ini bagian dari saya. Loh.. tadi baju bukan anda karena melalui proses memperoleh, bukannya badan anda itu dari hasil makan dan minum, dari luar juga (melalui proses memperoleh)?.

Jadi badan saya, bukan saya dong?. Jujur, iyya.

Sekarang, pikiran anda, apakah itu anda?. Tentu, ini saya lagi berpikir. Loh.. loh.. pikiran anda juga itu hasil perolehan dari luar, dari guru, dari sosmed, dari pengalaman, dll.., semuanya dari luar. Benar juga ya, jadi pikiran saya bukan saya?. Jujur lagi, iyya.

Terus "aku" itu siapa?.

Kata Quran, "balil insanu ala nafsihi basirah" "bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri".

Yap, kita adalah kesadaran itu, kita adalah asyhadu "saksi". Yang menyaksikan badan dan pikiran kita sendiri.

Mengapa kita bisa membandingkan masa lalu dengan masa sekarang, itu karena kita punya saksi yg tidak berubah, dan terus mengamati. Kita mengira kita adalah pemeran, padahal kita adalah panggung itu sendiri.

Jadi, basirah itu apa?, siapa saksi itu?, "wa nafakhtu fîhi mir rûḫî", roh yang Allah tiupkan ke dalam diri kita, dengan kata lain "roh Allah".

Nah, mengapa saya katakan kita tidak akan pernah ikhlas, karena selama ada hijab "aku", kita terhalang dari menyaksikan-Nya dan terhalang dari ikhlas (karena kita masih menyaksikan amal kita, bukan menyaksikan Allah semata), menjadi jelaslah ihsan itu apa, (ketika kita beribadah dan yg kita saksikan hanya Allah, atau kalau ga bisa, setidaknya kita yakin ada yg menyaksikan).

Jadi, sebenarnya, yg kita cari selama ini ada di dalam diri sendiri, "wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warid", "dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri".

Jadi, bukan Allah yg menghalangi kita melihatnya, tapi kita sendiri yang menghalanginya dengan ke "aku"-an, selama ada "aku", kita tidak akan pernah melihat yg satu (ahad/esa).

Syariat agama itu dari syari' yg maknanya jalan, namanya jalan tentu bukan tujuan kan?, kalau ga lewat jalan juga ga akan sampai tujuan. Apa maksud saya?, jadikan jalan itu sebagai jalan, jangan jadikan sebagai tujuan.

Kita akan terus berjalan (bersyariat), hingga kita berjumpa dengannya. Apakah orang yg sudah "sampai" di dunia tdk butuh syariat?. Menurut saya, tidak begitu, karena kata "sampai" itu tidak ada dalam kamus "mengenal Allah", karena Allah tidak berawal dan tidak berakhir. Allah tidak akan pernah dikenali secara sempurna, inilah mengapa kenikmatan di surga akan terus bertambah, karena Allah itu tak terbatas.

Sebenarnya mengapa saya menulis 2 paragraf di atas, saya ingin mengatakan bahwa "jangan pernah merasa sampai karena anda tahu jalan (syariat)", berjalanlah di atas jalan itu tanpa merasa sudah "sampai".

Oke, jadi saya tidak pernah ikhlas itu maknanya saya yg berusaha ikhlas (mukhlis), adapun mukhlas (yg diikhlaskan oleh Allah) adalah orang-orang terpilih dari para Nabi, Rasul, dan Wali-Walinya.

Saya sebagai manusia biasa yg menutup diri dengan dosa dan maksiat, hanya bisa berusaha mengikhlaskan amal, beda dengan ikhlasnya para orang-orang terpilih (mukhlas), ketika mereka beramal, yg mereka saksikan hanya Allah, bukan amalnya.

Terlihat tidak pembatasnya apa?. Klaim (peng"aku"an) atas amal itu.

Saya singgung sedikit ya, soal karomah, soalnya ada yg ga percaya dengan karomah dan kewalian, saya juga tidak percaya dengan karomah kalau orangnya tidak soleh, tapi kalau orangnya soleh dan menjalankan syariat yg lurus, saya sangat percaya.

Gini loh, tolong banget dipikirkan, di awal surat Al-Baqarah, Allah menyebutkan bahwa orang beriman itu "mereka yg percaya hal gaib", dan mudah sekali bagi Allah menganugerahkan kepada orang soleh dan para walinya karomah-karomah, very ez lah bagi Allah, ez banget, tapi ingat, pastikan yg punya karomah adalah orang soleh yg menjalankan syariat yg lurus, wali Allah, bukan wali setan.

Oke gitu aja ya, saya cuma nulis doang, saya sendiri masih terus mengusahakan untuk ikhlas, setidaknya saya berbagi apa yg saya ketahui, tentu anda ga perlu telan mentah-mentah, verifikasi dulu semuanya, karena seluruh tulisan saya tidak bisa saya jamin seluruhnya benar, saya hanya berbagi sudut pandang saja.

Sekian, wallahu a'lam.