Mengapa Takut dengan Filsafat?
Bismillah.
Banyak orang yg melihat filsafat sebagai momok yg sangat menakutkan, bahkan filsafat bisa disamakan dengan ateis, saya ingin memberikan pandangan yg semoga mudah dipahami.
Sebelum itu, saya ingin mengajak para pembaca, untuk membedakan "pemahaman" dengan "produk pemahaman". Agar kebayang, coba anda bayangkan mesin cetak 3 dimensi (anda bisa googling, salah satu mereknya adalah "Bambu Lab"), itu satu mesin bisa menghasilkan macam-macam produk 3 dimensi.
Jadi pemahaman adalah mesinnya, produk pemahaman adalah produk 3 dimensi yg dihasilkan dari mesin. Ini penting, karena produk dari satu pemahaman itu macam-macam, apalagi mesin yg bernama filsafat itu.
Apa bedanya logika dengan filsafat?
Logika itu diibaratkan pondasi dalam berfilsafat, kalau filsafat adalah mesin maka logika adalah processornya (CPU dalam komputer), logika biasanya disusun dengan menggunakan premis-premis untuk mencapai kesimpulan, misalnya:
Premis mayor: Jika A = B.
Premis minor: dan B = C.
Kesimpulan: maka A = C.
Mengapa A = C? karena A = B, B = C, maka konsekuensi logisnya C juga = A.
Logika itu sangat-sangat penting sekali, jangan sampai kita baca buku filsafat (produk pemahaman/pemikiran orang lain) tanpa tahu cara berlogika, sangat-sangat bahaya, ini beneran bisa sesat, duarius (lebih dari serius).
Kekuatan logika itu terletak di mana?, pada premisnya, jadi pastikan premisnya benar dulu dan bisa dibuktikan baru bicara kesimpulan. Misalanya ada yg mengatakan "Syiah bukan Islam".
Oke, mari kita buktikan:
Premis 1 (mayor) : Jika islam adalah ahlul kibla "mereka yg menghadap kiblat".
Kenapa ahlul kibla?, orang yg bersyahadat dan bohong kita ga tahu, soalnya kita ga tahu hati orang. Ga solat adalah dosa besar, bukan ke luar dari islam. Ga zakat dan puasa juga tidak mengeluarkan orang dari islam, dosa besar.
Premis 2 (minor) : Dan syiah menghadap kiblat.
Kesimpulan: Maka syiah islam.
Jadi, sekarang kita tahu, kalau yg mengatakan syiah bukan islam, adalah pendapat yg bermasalah, karena premis keislaman terpenuhi. Adapun kafir/ke luarnya seseorang dari islam, itu harus diverifikasi orang per orang secara langsung, bukan kelompok, kecuali kelompok itu terbukti bukan ahlul kibla.
Saya tidak sedang membela syiah secara keseluruhan, jelas banyak paham yg bertolak belakang dengan saya sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah, saya hanya ingin katakan, tolong kita berlaku adil.
Oke, kita sudah tahu kalau inti daripada filsafat adalah logika, dan inti daripada logika adalah premis yg tepat. Jadi, tolong pelajari ilmu logika dulu sebelum membaca buku-buku filsafat agar anda tidak gampang terbawa arus. Produk dari ilmu logika, diantaranya adalah ushul fiqh.
Sekarang, apa itu filsafat?
Filsafat berasal dari kata philosophia; philo = cinta, sophia = kebijaksanaan. Jadi filsafat secara bahasa adalah "cinta kebijaksanaan" apa bentuk ekspresinya?, bentuknya bukan bernyanyi, menggambar, tapi menghasrati pengetahuan, mengkaji hakikat, keingintahuan yg dalam.
Orang yg berfilsafat, disebut dengan filsuf atau filosof. Seorang filosof itu bukan orang yg bijaksana, tapi mencintai kebijaksanaan, makna cinta di sini adalah proses yg berlangsung terus-menerus. Mengapa?. Karena hakikat kebijaksaan adalah pengakuan akan ketidaktahuan.
Mengapa pengakuan akan ketidaktahuan?, diantarnya karena ilmu yg sama, tidak selalu berlaku untuk semua konteks, orang yg bijaksana itu mereka yg tahu ilmunya dan tahu konteksnya, tidak serampangan dalam berpendapat, mungkin kebijaksaan itu ada dalam fiqh dakwah, walaupun saya belum pernah baca, karena katakanlah anda tahu bahwa orang kafir masuk neraka, kalau anda berdakwah dan langsung mengatakan itu di hadapan orang, bubar itu..
Seorang filosof, tidak mengklaim dirinya si paling tahu, karena sudah tahu menciptakan batasan yg menutup dirinya dari kemungkinan yg bisa saja lebih benar daripada posisinya saat ini.
Nah, sebagai muslim, jujur saja berfilsafat selama tidak menutup diri (kafir), menutup diri itukan kayak kafir, selama saya tidak menutup diri, maka seharusnya keimanan akan semakin kokoh.
Seorang filosof bernama Sokrates mengatakan "saya tahu bahwa saya tidak tahu". cukuplah ungkapan itu menutup tulisan kali ini. Ungkapan itu sangat filosofis sekali.
Sekian, wassalam.