Kesenangan yg Menipu
Bismillah.
Saya perlu memberi konteks, konteks itu bisa diartikan sebagai maksud, agar kalimatnya punya sisi emosi/perasaan.
Kesenangan itu sesuatu yg nyata, bisa dirasakan, bisa dinikmati, bisa menyentuh hati, menenangkan perasaan.
Menipu, yg saya maksud adalah bayang-bayang, artinya kesenangan itu saya akan artikan menipu, jika saya menyangka bahwa kesenangan itu adalah hakikat (sejatinya) kesenangan padahal bukan.
Jadi, saya membedakan kesenangan yg menipu (hanya bayang-bayang) dengan kesenangan yang sejati (hakiki).
Nah, kesenangan yg sifatnya materi/duniawai/bisa diindra(dilihat, didengar, diraba, dirasa dengan lidah, dll..) dan tidak melibatkan Tuhan itu menipu, dalam artian, kesenangan bayang-bayang.
Bayang-bayang itu, kalau cahaya tidak ada, hilang juga bayang-bayangnya.
Artinya apa, jangan menikmati bayang-bayangnya saja, nikmati cahayanya.
Nah, apa yg saya maksud cahaya?, yaitu Tuhan yg cahayanya tdk akan pernah padam (kekal).
Tahu, siapa yg menikmati cahaya itu?, mereka yg punya ilmu tentang Tuhan (ulama) dan orang beriman yg bersih hatinya, mereka inilah yg sebenarnya menikmati kesenangan yg sejati itu.
Dengan apa mereka menikmatinya?, syukur, sabar, ridha kepada Allah. (gak masuk akal kan, sabar kok nikmat, mau gimana lagi, itu kenyataan, lihat saja para Nabi dan Rasul diuji, merekalah manusia yg paling dicintai Allah).
Kuncinya di mana?, hati yg bersih, kebahagiaan sejati sangat sulit dinikmati tanpa hati yang bersih.
Tanpa hati yg bersih, kesenangan hanya bisa kita nikmati lewat indra (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dll..), tapi hati yang bersih (ridha, syukur, sabar) tidak bergantung pada banyaknya materi.
Makanya ayat "hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang", hati apa? hati yg tidak punya banyak penyakit hati, semakin bersih hatinya, semakin ridha, tenang/senang jiwanya mengingat Allah.
Mungkin kita semua pernah sekali merasakan, momen di mana kita merasa sangat bahagia, yg sumbernya dari hati, (ridha, syukur, sabar), bahkan tanpa memiliki.
Mengapa hati yg ridha dengan pemberian Tuhan adalah yg paling bahagia?, karena hati (tergantung kadar kebersihan), itu menerima kesenangan dan kebahagiaan langsung dari sumbernya, dan tidak seperti indra (mata, telinga, lidah, kulit, hidung) ada batasnya, sedangkan hati itu luas banget, makanya sering ada istilah hati yg lapang.
Itu aja sih, apakah saya selalu senang dan bahagia, tidak juga, namanya juga manusia biasa, sering lupa Tuhannya, intinya ada sedikit gambaran lah, atau setidaknya ada peta, walaupun masih abstrak.
Terakhir, kuncinya adalah hati yg selalu ridha dengan ketetapan Allah, selalu muhasabah dan berusaha membersihkan hatinya (dari penyakit iri, dengki, riya, ujub, sombong, dll..). Itu doang sih, kuncinya.
Dan saya pastikan haqqul yaqin belum termasuk golongan itu, jadi jangan pernah menyangka saya baik, karena dunia ini masih penuh dengan ujiannya, dan ujian sesungguhnya adalah hati "apa yg hati saya cari dan condong padanya", misalnya saya menulis ini karena pengen terlihat pintar dan tahu, hanya saja dibungkus dengan kalimat yg indah dan mengatasnamakan Tuhan.
Sekian.