Tuhan, Sebuah Kontemplasi
Bismillah.
Kontemplasi dimulai dari bertanya, apa itu Tuhan dalam konteks relasi antara kita dengan-Nya, bukan relasi Tuhan dengan kita, kalau itu jelas, Tuhan adalah pencipta dan kita yg dicipta.
Yang jadi pertanyaan, mengapa manusia butuh Tuhan?.
Kaya?, orang tak percaya Tuhan juga kaya, sehat?, punya anak?, dll.. semuanya juga dimiliki oleh yg tak percaya Tuhan. Apa bedanya dengan yg bertuhan?.
Oh, yg tak bertuhan tidak percaya kehidupan akhirat, surga dan neraka. Setuju, argumen yg bagus.
Apa surga dan neraka itu Tuhan?, oh tidak, itu balasan Tuhan.
Jadi, kita butuh Tuhan agar dibalas surga?, mengapa hubungannya terdengar transaksional (ada yg diberi, ada yg menerima) ?.
Memangnya, mengapa kita merasa berhak dapat surga?, ibadah?, kalau iya, memangnya semua perangkat (jantung, lisan, akal, mata, telinga, termasuk bumi, bangunan, makanan, minuman, dll..) milik kita? kita yg menciptakannya dari ketiadaan?. Engga kan?.. kan.. (maksa, agar dijawab "iya deh").
Mungkin, sampai di sini saya ingin mengajak merenung..
Jadi Tuhan bagi kita itu apa?, sesuatu yg transaksional itu?, apa bedanya dengan harta yg dengannya kita membeli makanan yg enak, rumah mewah, dan mobil mahal?.
Masa sih, hubungan kita dengan Tuhan tidak ada bedanya dengan kesenangan yg kita dapatkan dari harta dan kekuasaan?.
Nah, di sini saya ingin memulai membuka perspektif baru, bagaimana kita melihat Tuhan sebagai Tuhan yang sebenarnya.
Saya yakin, semua manusia (iman atau belum beriman), pernah merasakan kerinduan yg dalam, serasa ada sesuatu yg kosong dan perlu diisi.
Apa itu?.
Ya, jiwa yg terpisah dari Tuhan, jangan asal ngomong kamu, apa buktinya?, Surat Al-Hijr Ayat 29: wa nafakhtu fîhi mir rûḫî (dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya).
Artinya apa?, jiwa ini merindukan Tuhan-Nya.
Sering dengar dan mengucapkan kalimat "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah (berasal dari-Nya) dan kepada-Nya lah kami kembali)"?. Itu dia, sering kita dengar dan ucapkan, hanya saja belum kita renungkan dan pahami.
Apasih tujuan saya menulis ini?.
Tujuannya, agar cara kita memandang Tuhan itu tidak lagi/hanya transaksional, ibadah bukan karena terpaksa, tapi karena itu kebutuhan jiwa.
Apasih yang menghalangi jiwa kita dengan tuhannya?, nafsu yg tak terkendali (ingin harta, tahta, dipuji, sombong, riya, ujub, iri, dengki, dll..) penyakit itulah yg mengotori hati dan menjadi penghalang, sehingga cahaya ilahi tidak terpantul dengan semestinya.
Perlu berlatih memang dan sangat susah, setidaknya saya sudah punya teorinya, tinggal memahami. ha..ha..ha..
Sekian.