2 min read

Catatan Dari Film The Minimalists, Less is Now

Catatan Dari Film The Minimalists, Less is Now
Photo by Isaac Benhesed / Unsplash

Pernahkah Anda bertanya, how might your life be better with less? atau dalam bahasa Indonesia, bagaimana hidupmu bisa lebih baik dengan lebih sedikit? Pertanyaan ini mungkin sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Minimalisme bukan sekadar tren membuang barang, melainkan sebuah filosofi hidup. Bukan hanya bagaimana caranya, tapi yang paling penting adalah "kenapa," karena alasan di balik keputusan kita jauh lebih berarti daripada tindakan itu sendiri. Dengan mengurangi hal-hal yang tidak perlu, dan pada akhirnya kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup kita, seperti kesehatan dan financial.

Salah satu cara praktis untuk memulai adalah dengan menerima challenge untuk menghilangkan 1 barang tiap hari selama 30 hari. Tantangan ini mengajak kita untuk bertanya, apa yang bisa kuhilangkan untuk menambah value in my life? Proses ini mungkin terasa berat pada awalnya, tetapi semakin kau lakukan, kau akan semakin merasa bebas, bahagia, dan ringan. Ada kelegaan yang muncul ketika kita hanya dikelilingi oleh barang yang benar-benar kita butuhkan atau cintai. Seperti yang sering dikatakan, setiap barang yang kami miliki, semuanya ada fungsinya. Dalam pandangan minimalis, sebagai seorang minimalis, setiap kepemilikan memiliki tujuan atau memberikan kebahagiaan dan segala sesuatu lainnya akan disingkirkan.

Namun, minimalisme tidak hanya soal barang. Ia mengajak kita merenung lebih dalam: what is truly important in my life? Kenapa aku begitu tak puas? Aku mau menjadi siapa dan bagaimana aku menentukan kesuksesan sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan sulit dengan jawaban sulit, tetapi justru di sinilah intinya. Tapi itu jauh lebih penting daripada hanya membuang barang-barangku. Jika kita tidak meluangkan waktu untuk menjawabnya, jika kita tidak menjawab pertanyaan ini dengan hati-hati dengan teliti... lalu lemari yang baru saja kita bereskan akan penuh dengan pembelian baru dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Minimalisme, pada dasarnya, adalah alat untuk melepaskan. Minimalisme adalah hal yang membuat kita melewati sesuatu, jadi kita bisa memberi ruang untuk hal terpenting dalam hidup yang sebenarnya bukan hanya barang semakin sedikit. Salah satu metode yang bisa dicoba adalah ambil semua barang yang ada di rumah seakan-akan anda ingin pindah rumah, kemudian masukkan semua ke dalam box dan berikan nama di setiap box, kemudian anda hanya mengambil sesuatu yang menambah nilai dalam hidup kita. Bayangkan setelah tiga minggu, Anda menyadari bahwa setelah 3 minggu, 80% of my stuff still sitting in house boxes. Barang-barang itu ternyata tidak benar-benar kita perlukan.

Lalu, apa yang bisa kita dapatkan dari semua ini? Imagine life with more, more time, relationship, growth, contribution, kepuasan. Dengan mengurangi beban materi, kita membuka ruang untuk hal-hal yang lebih bermakna. Dan pada akhirnya hidup akan penuh dengan gairah dan tak terbebani oleh perangkap dunia yang kacau di sekitarmu, yang akan kau bayangkan adalah kehidupan yang disengaja bukan hidup sempurna, mudah tapi yang sederhana. Hidup sederhana bukan berarti membosankan, tetapi terarah dan penuh makna.

Untuk mencapai ke sana, langkah kecil bisa dimulai. Untuk sampai ke sana, you might have to let go of one stuff that's in the way. Take the less is now challenge (Donate, sell or recycle). Donasi, jual, atau daur ulang barang yang tidak lagi relevan dalam hidup Anda. Langkah ini bukan hanya membersihkan ruang fisik, tetapi juga pikiran dan hati. Jadi, mengapa tidak mencoba? Hidup dengan lebih sedikit bisa menjadi pintu menuju kebebasan yang selama ini Anda cari.