Ngaji bareng Dr. Fahruddin Faiz - I

Ngaji bareng Dr. Fahruddin Faiz - I
Photo by Aaron Burden / Unsplash

Untuk hidup dengan baik, kamu harus hidup "unseen" tidak dikenal, kalau kamu dikenal, susah hidupmu, banyak citra yang harus kamu pertahankan.

Saat aku terlindung dari pengawasan orang lain, aku berkembang (dengan berfilsafat - berkontemplasi).

Hidup tanpa berfilsafat, sama dengan terus-menerus menutup mata, tanpa membukanya.

Hari-hari ini, kalau mau menasihati orang, pamit dulu, "kamu mau dinasihati tidak?".

Apa yang kamu biasakan, akan membentuk karaktermu/watakmu.

Meragukan, mempertanyakan, adalah sumber wisdom (kebijaksanaan).

Bayangkan, seseorang yang membawa satu keranjang penuh apel, dia takut ada satu yang busuk, sehinngga dia ingin membuang yg busuk itu agar tidak menyebar ke yang lain, bukankah dia akan mengeluarkan seluruh apel dalam proses mencari yang busuk itu, selanjutnya, bukankah dia akan mengamati setiap apelnya itu dan mencari mana yang busuk, kemudian mengeluarkan yang busuk, dan memasukkan seluruh yang masih bagus.

Dengan cara yang sama, mereka yang belum pernah berfilsafat secara serius, memiliki beragam pandangan dalam pikirannya yang telah dimasukkan sejak kanak-kanak, dan pasti ia juga percaya dan menganggap beberapa pandangannya ada yang keliru, maka, cara terbaik yang harus ia lakukan adalah: (1) menolak semua yang ia anggap benar sebagai belum pasti/salah, (2) kemudian ia telaah satu-satu dan akhirnya mengambil semua yang terbukti benar dan tidak diragukan lagi.

Semua pikiran harus diuji ulang, karena pikiran yang baik jika masih tercampur dengan pikiran yang jelek, pikiran yang baik akan tertulari dan jadi jelek.

Sortirlah, sehingga yang ada dikepala kita, hanya ada yang benar-benar dan pasti-pasti saja, tentu, kemampuan seperti ini hanya dilakukan oleh pemberani, karena kebanyakan kita pasti sudah terikat dengan sesuatu yang "dianggap" kebenaran dalam hidupnya.

Problemnya hari ini, banyak yang tidak mau menguji ulang apa yang mereka percayai, baik sesuatu itu kita anggap benar ataupun salah, kedua-duanya (benar dan salah menurut keyakinan kita) harus diuji kembali.

Mungkin, sebagai umat beragama, diantara alasannya karena takut keimanannya terganggu, takut menjadi ateis, padahal, realitanya, berfilsafat malah sebaliknya, memperkuat keimanan dan menjauhkan kita dari paham ateis, saya yakin bahwa yang pada akhirnya memilih ateis punya 2 kemungkinan, karena tidak mau tahu lagi atau karena sombong.

Hidup tidak ada harganya jika tidak diuji, sebelum kamu uji dan paham sendiri, sebelumnya kamu hanya ikut-ikutan saja.

4 aturan berpikir:

(1) Jangan percaya apapun, sampai terbukti kebenarannya dengan menguji.

(2) Analisislah semua masalah dengan memilah semua bagiannya/variabelnya.

(3) Identifikasi kemungkinan-kemungkinan dari suatu masalah itu

(4) Temukan solusi step by step, yang paling mudah dulu, kemudian yang sulit, kemudian yang paling sulit.

Aliran Rasionalisme

Definisi: pengetahuan yang bisa dipercaya, yang sumbernya adalah rasio/akal, berbeda dengan versi Aristotle, yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan adalah realitas/kenyataan yang sifatnya empiris (bisa diindra), aliran rasionalisme tidak menolak adanya sesuatu yang bersifat metafisik (tidak punya wujud materi).

Empiris memang nyata, tapi pengetahuan empiris itu, sifatnya kebanyakan "subjektif", misalkan: kamu mimpi melihat wajahmu sangat ganteng, begitu bangun ternyata tidak. Ngomong besar atau kecil, sifatnya subjektif dan tidak pasti karena bayangan tiap orang dengan kata besar atau kecil, berbeda-beda.

Contoh lain:

Saat kamu memasukkan pensil ke dalam gelas kaca berisi air, mata melihatnya patah, tapi kamu yakin kalau pensil itu lurus dan tidak patah, sumber keyakinan itu dari mana?, akalmu yang bilang, walaupun mata melihatnya patah.

Gunung itu, dari jauh, mata akan mengatakan bahwa itu kecil, mulus, dan rapi, tapi akalmu menolak, karena kenyataannya berbeda dengan apa yang diyakini oleh akalmu, sehingga, akal lebih bisa dipercaya ketimbang mata.

Sama seperti rembulan, penyair mengatakan "wajahmu indah bagai rembulan" namun, akal mengatakan bahwa bulan itu banyak kawahnya.

Dari contoh di atas, rasio/akal lebih bisa dijadikan sandaran, karena realitas dari panca indra disusun ulang oleh pikiran, "tergantung pikiran".

Pikiran kita sedang apa, itu sangat mempengaruhi cara kita memandang realitas, indah tidak indah, itu urusan mata, tapi yang sebenarnya kerja, itu akal. Halus atau tidak halus, tangan hanya merasakan sensasi, yang menyimpulkan halus atau tidak adalah akal/rasio.