Hidup buat apa?
Bismillah, Aku akan memulai dengan pertanyaan, buat apa aku diciptakan?, berat dan filosofis sekali? ah, ga juga. Menurutku, ini pertanyaan yg sangat fundamental dan penting untuk dijawab. Mengapa?, masa sih anda mau hidup tanpa tujuan, engga kan?. Semoga anda setuju.
Karena aku muslim dan percaya pada Tuhan, jawabannya ada dalam Al-Quran.
Apa jawabannya?, dulu, mungkin aku akan jawab beribadah, namun sekarang, aku percaya bahwa tujuan sebenarnya adalah mengenal-Nya.
Kok bukan ibadah sih, jelas banget loh ayatnya, iya, tapi masa sih anda mau ibadah tapi ga kenal Tuhan yang anda ibadahi?. Masuk akal buat anda?, kalau engga, santai aja, pikir-pikir lagi sambil ngopi dan baca.
Setelah ku mengenal-Nya, Allah ternyata tidak butuh ibadahku, nah loh, jadi ibadah ga penting dong?, ga gitu jawabannya.
Jadi gini, Allah itu maha kaya dan tempat bergantung seluruh makhluk, mana mungkin Tuhan setak terbatas Allah butuh pada ibadahku, jelas, kata Allah dalam ayat qudsi, kalau semua makhluk dikumpulkan dan semua beribadah kepada-Nya atau bermaksiat kepada-Nya, tidak menambah dan mengurangi sedikitpun kekuasaan-Nya.
Terus ibadahku buat apa dong?, bayangkan Allah ngasih anda hidup, coba deh pikir, berapa nilai 1 detik hidup anda?, aku akan katakan, 1 detik hidup kita, tidak akan pernah bisa kita balas dengan ibadah seumur hidup, mengapa?
Soalnya kita ga punya modal ketika hidup, kita ga pernah membayar sepeserpun, jasad kita yang isinya triliunan sel dan berganti tiap saat itu tidak pernah kita atur, jantung kita, mata kita, telinga kita, lambung kita, usus kita, apalagi? semuanya ga pernah kita urus, tau-tau berfungsi aja, alias kita cuma terima jadi, itu jasad loh, belum bicara soal oksigen, matahari, bumi, gunung, laut, air, tanaman, hewan ternak, harta benda, apakah kita pikir semua itu ga ada yang mengatur?.
Sangat tidak logis kalau kita memiliki kepercayaan seperti itu, kita lihat benda yang gerak tanpa sebab aja pikiran kita udah ke mana-mana, bahkan dibuat-buatkan sebabnya seperti hantu, lah tuh organ dan alam semesta ini bergerak tiap detik, kok kita ga pernah mikir kalau ada yg menggerakkan sih?. Maka "jangan sampai keteraturan sebab membuat kita lupa pada Sang Penggerak Sebab".
Nah, setelah tahu semua itu, kita akan sadar kalau posisi kita itu selalu diberi, diberi, dan diberi, kita ga pernah memberi sedikitpun, mengapa? karena semua burger milik Allah, eh, maaf, bukan hanya burger, tapi semuanya milik Allah dan ada dalam kuasa-Nya, termasuk kemampuan saya saat ini untuk mengetik, bernapas, berpikir, dll.. semuanya atas kehendak dan kuasa-Nya. Aku ini hanya pemeran saja.
Kalau kita cuma pemeran aja, kok ada surga dan neraka?. Kita akan masuk ke dalam konsep "kasb", bahwa manusia itu punya kehendak, Allah sudah menyediakan 2 jalan, kita mau syukur dengan mengakui semua adalah pemberiannya atau kita mau kufur dengan menggunakan pemberiannya untuk hal-hal yang tidak diridhai-Nya. Yang syukur akan ke surga, yang kufur akan ke neraka.
Pada titik ini, aku sangat suka menyinggung bahwa kita dasarnya adalah manusia, sering lupa dan berbuat dosa, maka prinsip yang perlu kita jaga adalah jangan pernah putus asa, walaupun tiap detiknya kita bermaksiat, mengapa? karena putus asa (merasa diri hina dan tidak pantas menerima taubat) adalah pintu masuknya setan laknat! (dengan nada kesal tapi lucu) dan termasuk merendahkan ampunan Allah karena kita merasa dosa dan maksiat kita lebih besar daripada ampunan-Nya.
Agar kita tidak mudah putus asa, aku akan berikan logikanya, rahmat Allah jauh lebih besar dari murka-Nya, anda pasti tahu lambang tak hingga pada matematika, nah rahmat dan ampunan Allah itu tak hingga alias tak terbatas, jadi dosa anda mau sebanyak apapun, mau dosa anda itu penuh dan memenuhi langit, ga akan pernah ada artinya di hadapan rahmat dan ampunan yg tak hingga, jika kita membagi dosa kita yang super banyak itu dengan tak hingga, dosa dan maksiat kita itu nilainya di hadapan rahmat dan ampunan Allah tetap 0.
Hanya saja, saya ingin agar kita hati-hati dengan dosa kepada sesama, seperti ghibah misalnya, mengambil hak orang lain, menganggu orang lain, dll.. mengapa? karena jalannya selain taubat, anda harus meminta ikhlas orang tersebut, atau kalau yang bersangkutan telah meninggal, doakan dan sedekahlah buatnya.
Nah, itu cara agar kita jangan sampai putus asa ya, sekarang gimana agar kita senang ibadah? sebenarnya logikanya cukup mudah, kita ini terus-terusan diberi loh, 1 detik aja ga akan pernah mungkin kita balas dengan ibadah seumur hidup, maka, logikanya adalah yaudahlah minimal berterima kasih/bersyukur kepada sang pemberi, caranya gimana?
Caranya adalah dengan menjaga kewajiban kita kepada-Nya, Allah cuma minta salat 5 waktu kok, itupun cuma 5 x 5 menit, 25 menit sehari, masa sih cuma buat bersyukur sesebentar itu kita enggan, dan ga perlu menunggu sempurna untuk melakukan itu, kita mau di mana saja, kapanpun, ketika masuk waktu salat, ambil wudhu dan salat, setelah salam, anda mau langsung lompat atau dzikir dulu jg ga ada masalah, karena yg wajib cuma salatnya.
Kita juga ga perlu mikir salat kita diterima atau tidak, itu urusan Allah, tapi penting juga untuk kita belajar cara wudhu dan salat yang benar, serta walaupun belum sempurna, tetaplah salat.
Jujur saja, menurutku, kita ingin sampai pada titik pengakuan, ya.. Allah, nikmatmu buatkan sangat-sangat banyak, 1 detik-pun tak akan pernah kubalas dengan ibadah seumur hidupku, yaudahlah ya Allah, aku pengen nikmati nikmatmu itu dengan menjaga ibadah minimalku saja.
Kalau kita punya mindset seperti itu, mungkin suatu saat kita akan sadar, bahwa nikmat sesungguhnya adalah ibadah dan mengenal-Nya itu sendiri, kita cukup istiqamah dulu menjalankan yang wajib-wajib saja, kalau suatu saat merasa bahagia dan senang dengan yang wajib, kita mulai sedikit menambah yang sunnah.
Menambah sunnah, sedikit saja dan ga perlu diyakini sebagai wajib sehingga menjadi beban buat kita, kerjakan kalau ada waktu dan kita dalam kondisi mampu dan senang, mungkin suatu saat kita diberikan nikmat ibadah sunnah itu, sehingga mengerjakannya terasa sangat ringan.
Sekian.