Envy & Jealousy
Perumpamaan seseorang yang tidak senang melihat nikmat yang Allah berikan kepada makhluknya, seperti datang ke sebuah pameran lukisan, bukannya menikmati keindahan lukisan itu, dia memilih untuk mencoretnya.
Sesuatu yang sebelumnya bisa dia nikmati keindahannya, tanpa harus membayar & tanpa harus memiliki, menjadi tidak lagi, bahkan menyisakan noda di hatinya.
Jika kita menyadari bahwa setiap "lukisan" (nikmat) itu dipasang oleh pemilik galeri (Allah), maka mencoret lukisan tersebut sebenarnya adalah bentuk protes langsung kepada Sang Pemilik Galeri. Kita seolah-olah mengatakan bahwa pilihan-Nya dalam memajang karya itu salah.
Mungkin solusi terbaik agar kita tetap bisa menikmati "pameran kehidupan" ini adalah dengan menyadari bahwa masih banyak dinding kosong yang sedang dipersiapkan untuk lukisan kita sendiri, asalkan kita sibuk berkarya, bukan sibuk membawa spidol untuk merusak karya orang lain.
Yang paling tragis dari hasad bukan dampaknya pada orang yang dihasad, lukisan itu tetap ada, pelukisnya tidak rugi, tapi pada si pendengki itu sendiri.
Dia datang ke pameran gratis. Tidak perlu membeli, tidak perlu memiliki. Keindahan itu tersedia untuknya sama seperti untuk semua orang. Tapi karena tidak tahan melihat lukisan itu ada, dia memilih mencoretnya, dan sekarang yang tersisa hanya rasa bersalah, amarah, dan noda di tangannya sendiri.
Satu tambahan yang mungkin memperdalam perumpamaan ini:
Lukisan yang dicoreti itu bisa dipulihkan. Tapi hati yang terbiasa mencoreti, lama-lama kehilangan kemampuan untuk menikmati keindahan apapun.
Ini yang dimaksud para ulama ketika menyebut hasad sebagai penyakit hati, bukan sekadar dosa, tapi kerusakan pada alat yang dipakai untuk merasakan nikmat. Orang yang hasad menghukum dirinya dua kali: pertama saat melihat nikmat orang lain, kedua saat nikmatnya sendiri pun terasa hambar.